HEADLINEINTERNASIONALNEWS

10 Poin Iran yang Bikin Donald Trump Batalkan Serangan Besar AS-Israel

DISTORI.ID– Dunia nyaris menyaksikan konflik terparah di Timur Tengah ketika Amerika Serikat (AS)-Israel siap melancarkan serangan besar ke Iran.

Namun, hanya satu jam sebelum tenggat ultimatum berakhir, Presiden AS Donald Trump justru mengambil langkah tak terduga dengan mengumumkan gencatan senjata sementara.

Kesepakatan yang berlaku selama dua Minggu itu menjadi titik balik dramatis. Iran juga sepakat buka kembali jalur vital energi dunia, Selat Hormuz, meski hanya sementara.

Dari laporan media internasional, Gedung Putih menyebut Israel juga ikut menyetujui gencatan senjata sementara itu.

Trump sendiri mengakui bahwa keputusan itu diambil setelah menerima proposal dari Iran yang dinilai bisa diterapkan.

10 Poin yang Jadi Taruhan Global

Di balik kesepakatan mendadak ini, Iran mengajukan proposal yang terdiri dari 10 poin.

Dokumen tersebut dikirim ke Washington melalui jalur diplomasi tidak langsung dengan bantuan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebagai mediator.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa perang hanya akan benar-benar diakhiri jika seluruh poin dalam proposal itu disepakati.

Isi tuntutan tersebut mencerminkan posisi keras Iran. Bahkan beberapa poin di antaranya sebelumnya sudah ditolak mentah-mentah oleh AS.

Beberapa poin utama dari Iran dalam proposal tersebut meliputi pencabutan seluruh sanksi ekonomi, baik primer maupun sekunder; pengakuan kontrol Iran atas Selat Hormuz; penarikan militer AS dari kawasan Timur Tengah; penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya; pembebasan aset Iran yang selama ini dibekukan; pengesahan kesepakatan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB

Menariknya, dalam versi bahasa Persia, Iran juga mencantumkan frasa “penerimaan pengayaan” terkait program nuklirnya.
Namun, frasa tersebut tidak muncul dalam versi bahasa Inggris yang dibagikan kepada diplomat. Poin itu masih jadi tanda adanya ruang negosiasi yang masih terbuka.

Perhatian dunia kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak global.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan jalur aman akan tetap dibuka. Namun, tetap berada di bawah pengawasan militer Iran.

Menurut pejabat Iran, otoritas Teheran berencana bekerja sama dengan Oman untuk memungut biaya dari kapal yang melintas, dengan estimasi mencapai jutaan dolar per kapal.

Dari penjelasan sumber itu, dana itu bakal dipakai untuk membangun kembali infrastruktur Iran yang rusak akibat serangan.

Namun, ancaman tetap ada, jika negosiasi gagal. Iran bisa kembali menutup selat tersebut, yang berpotensi mengguncang ekonomi global.

Peran Pakistan menjadi krusial dalam meredakan ketegangan. Perdana Menteri Shehbaz Sharif bahkan telah mengundang delegasi Iran dan AS untuk melanjutkan pembicaraan di Islamabad.

Iran telah menyatakan kesediaannya hadir, namun hingga kini pihak AS belum memberikan konfirmasi resmi.

Di sisi lain, China juga ikut mendorong Iran agar memilih jalur gencatan senjata.

Trump sendiri mengakui bahwa Beijing memiliki peran dalam membawa Teheran kembali ke meja perundingan.

Meski gencatan senjata telah disepakati, masa depan proposal 10 poin Iran masih penuh ketidakpastian.

Sejak awal, perbedaan tajam antara kedua negara—terutama terkait program nuklir dan pengaruh regional—menjadi penghalang utama tercapainya kesepakatan permanen.

Salah satu poin paling kontroversial adalah tuntutan Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button