DISTORI.ID – Dua mahasiswi pertukaran mahasiswa di Aceh, Fenia dari Universitas Bhinneka Tulung Agung, Jawa Timur dan Merlina Agustin, Universitas Setia Budi Brebes, mengaku terpukau dengan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 yang digelar di Banda Aceh sejak 4 November 2023.
Fenia mengatakan, PKA merupakan kesempatan besar baginya untuk belajar tentang kebudayaan Aceh. Ia pun terkesan dengan kemegahan 23 anjungan dari tiap kabupaten/kota yang tersebar di Aceh.
“Saya bisa menyaksikan langsung kekayaan budaya Aceh yang begitu beragam,” kata Fenia saat di temui di area Kenduri Laot, Gampong Jawa, Minggu 12 November 2023.
Selain itu, Fenia juga mengaku sangat menikmati berbagai kuliner Aceh yang disajikan di area PKA. Menurutnya, masakan Aceh memiliki rasa rempah yang luar biasa dan cocok untuk semua lidah.
“Semua makanan Aceh bisa ditoleransi di lidah saya, dan juga makanannya enak-enak semua rempahnya terasa,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Merlina. Ia menilai PKA merupakan kesempatan emas bagi generasi muda untuk belajar tentang kebudayaan Aceh.
“Kegiatan ini sangat menarik dan terlihat animo masyarakat terhadap atraksi budaya ini juga luar biasa,” kata Merlina.
Ia pun berharap, PKA dapat terus digelar secara rutin agar generasi muda dapat terus belajar tentang kebudayaan Aceh.
Sebelumnya, salah seorang pengunjung dari Aceh Selatan, Nurul, mengatakan, saat memasuki area PKA-8 begitu banyak informasi yang dia terima mengenai kebudayaan yang ada di Aceh, dan khususnya perjalanan kejayaan rempah di Aceh pada masa silam.
“PKA-8 banyak memberikan edukasi, apalagi untuk kaum milenial,” kata Nurul di lokasi utama PKA-8, Sabtu (11/11/2023).
Nurul mengungkapkan, tema Rempahkan Bumi Pulihkan Dunia juga menjadi ikon penting yang harus dibahas. Sebab, saat ini banyak dari kalangan muda sudah mulai acuh dengan salah satu yang berperan besar dalam kejayaan kerajaan Aceh dulu.
“Saya harap dengan pengenalan rempah ini bisa kembali membuka wawasan pemuda-pemudi Aceh tentang rempah,” terangnya.
Nurul menyebutkan manfaat rempah bukan hanya sebagai penikmat makanan, bahkan bisa juga dijadikan obat dan yang ilmu baru yang ia dapatkan dari seminar rempah yang diadakan pada hari kedua pelaksanaan PKA-8, bahwa rempah bisa dijadikan warna alam untuk dunia fashion.
Selain Nurul, pengunjung lainnya juga mengaku mendapatkan edukasi yang bermanfaat dari PKA-8. Salah satunya adalah Muammal Redha Falevi, siswa Pesantren Modern Al Manar, Kabupaten Aceh Besar.
“Saya banyak melihat dan mendapatkan pengetahuan tentang ragam adat, budaya maupun sejarah di acara PKA-8,” kata Muammal.
Ia mengaku baru menyadari ternyata rempah-rempah Aceh bukan hanya yang ditemui dalam makanan saja, ternyata masih banyak lagi. “Saya jadi ingin belajar lebih banyak lagi tentang rempah-rempah Aceh,” ujarnya.
Dengan adanya PKA-8, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Aceh akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya dan rempah-rempah Aceh. (MC PKA-8)