DISTORI.ID – Iran terus memainkan Selat Hormuz dalam konflik bersenjata dengan Amerika Serikat (AS)-Israel. Alih-alih membuka jalur pelayaran internasional sepenuhnya, Teheran justru memberlakukan kebijakan selektif.
Teheran mengizinkan kapal negara sahabat yang diizinkan melintas, sementara musuh diblokir.
Kebijakan ini mempertegas bahwa Iran tidak sekadar bertahan dalam konflik. Tapi, Iran juga mengendalikan salah satu jalur energi terpenting dunia sebagai alat tekanan geopolitik.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka menyatakan bahwa akses Selat Hormuz hanya diberikan kepada negara yang dianggap bersahabat.
“Kami telah mengizinkan beberapa negara yang kami anggap bersahabat untuk melintasi Selat Hormuz: misalnya, Rusia, India, Irak, China, dan Pakistan. Kami tidak melihat alasan untuk mengizinkan musuh kami boleh lewat selat tersebut,” kata Araghchi dikutip dari Apa Az, Kamis, (26/3/2026).
Pernyataan ini menegaskan garis tegas Iran dalam membedakan sekutu dan lawan di tengah konflik yang memanas.
Kapal Non-Musuh Harus Izin Iran
Iran juga telah memberi tahu komunitas internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB dan Organisasi Maritim Internasional (IMO), bahwa pelayaran masih dimungkinkan—dengan syarat ketat.
Kapal ‘non-musuh’ bisa melintasi Selat Hormuz jika mereka berkoordinasi dengan otoritas Iran.
Namun, Teheran menegaskan bahwa kapal yang terkait dengan AS dan Israel tidak akan mendapatkan akses.
Kapal yang terkait dengan AS dan Israel dinilai tak memenuhi syarat untuk pelayaran yang damai atau non-musuh.
Sejak konflik pecah, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Dampaknya langsung terasa secara global.
Lalu lintas harian turun drastis dari 130 kapal kini hanya sekitar puluhan kapal yang berhasil melintas.
Kondisi itu menciptakan tekanan besar pada rantai pasok energi dunia.
Iran juga menunjukkan keseriusannya dalam mengontrol wilayah tersebut dengan tindakan militer.
Dalam beberapa hari awal konflik, sekitar 20 kapal yang mencoba melintas dilaporkan menjadi target serangan.
Langkah ini mempertegas bahwa aturan Iran bukan sekadar ancaman, tetapi benar-benar ditegakkan di lapangan. Meski mendapat sorotan internasional, Iran membela kebijakannya sebagai langkah defensif.
“Teheran telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan proporsional untuk mencegah para agresor dan pendukung mereka memanfaatkan Selat Hormuz untuk memajukan operasi permusuhan terhadap Iran,”pungkas Araghchi. []






