DISTORI.ID – Pertemuan antara Anies Baswedan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Puri Cikeas, Bogor, tak sekadar momen silaturahmi Lebaran.
Di permukaan, pertemuan itu terlihat sebagai tradisi halalbihalal biasa. Namun di baliknya, muncul tafsir politik yang lebih dalam yakni upaya mencairkan hubungan yang sempat membeku usai dinamika panas Pilpres 2024.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai kunjungan tersebut sah-sah saja jika dilihat dari konteks budaya dan tradisi.
“Apalagi Anies yang lebih muda, tentu wajar menemui SBY saat halalbihalal. Menghormati yang lebih tua menjadi cara menjaga kesinambungan nilai dan harmoni,” kata Jamil, sapaan akrabnya kepada awak media, Rabu, (25/3/2026).
Dia menegaskan, dalam budaya Timur dan nilai Islam, sikap menghormati yang lebih tua merupakan hal lumrah.
Dengan demikian, pertemuan itu tak perlu ditafsirkan berlebihan jika dilihat secara kasat mata.
“Tampaknya secara tersurat, Anies menemui SBY saat halalbihalal suatu hal yang normal. Dengan usia yang lebih muda, tentu wajar Anies datang menemui SBY,” jelas Jamil.
Namun, jika dibaca lebih dalam, momen tersebut dinilai sarat pesan politik.
Halalbihalal bukan hanya ajang silaturahmi, tetapi juga ruang rekonsiliasi.
Jamil menilai hubungan Anies dengan SBY sempat merenggang sejak dinamika pencalonan di Pilpres 2024.
Saat itu, keputusan Partai NasDem yang mendadak memasangkan Anies dengan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mengejutkan banyak pihak termasuk kubu Demokrat.
Pasalnya, duet yang digadang-gadang sebelumnya mengusung duet Anies–AHY.
“Hal itu bisa saja terjadi karena hubungan Anies dengan SBY sempat membeku paska pencalonan capres-cawapres pada Pilpres 2024,” tutur Jamil.
Dalam konteks itu, kunjungan ke Cikeas diyakini bukan sekadar formalitas Lebaran, tetapi bagian dari upaya memperbaiki hubungan politik.
“Anies tampaknya ingin konflik yang sempat terjadi dapat terurai paska kunjungan halalbihalal,” ujar Jamil.
Ia bahkan menggambarkan harapan hubungan tersebut bisa kembali seperti semula.
“Kembali putih layaknya embun pagi. Harapan itu bisa jadi akan disambut SBY, yang selama ini dikenal sosok bijaksana dan jauh dari sikap pendendam,” sebut Jamil.
Lebih jauh, rekonsiliasi Anies dengan SBY berpotensi membuka jalan komunikasi yang lebih luas di level elite nasional.
Jamil melihat peluang bahwa SBY dapat menjadi penghubung antara Anies dan Prabowo Subianto, mengingat kedekatan politik keduanya.
“Kemungkinan itu sangat terbuka mengingat kedekatan SBY dengan Prabowo. SBY bisa saja menyakinkan Prabowo untuk merangkul Anies demi stabilitas politik nasional di tengah ketidaklastian global,” ujar Jamil. []






