DISTORI.ID – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah merancang kehadiran permanen Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA di Venezuela, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Menurut sumber-sumber yang mengetahui pembahasan internal tersebut, Departemen Luar Negeri AS akan bertindak sebagai perwakilan diplomatik utama di Venezuela.
Namun, dalam tahap awal, pemerintahan Trump disebut akan sangat bergantung pada CIA untuk memfasilitasi proses masuk kembali AS ke negara tersebut, mengingat kondisi politik dan keamanan yang masih belum stabil.
“Negaralah yang menancapkan bendera, tetapi CIA yang benar-benar memiliki pengaruh,” ujar salah satu sumber yang mengetahui rencana tersebut, dikutip Holopis.com, Rabu (28/1).
Dalam jangka pendek, para pejabat AS diperkirakan akan beroperasi dari kantor cabang CIA sebelum pembukaan kembali kedutaan besar resmi.
Skema ini memungkinkan mereka menjalin kontak informal dengan berbagai faksi di Venezuela, sekaligus memantau dan menargetkan pihak ketiga yang dinilai berpotensi menjadi ancaman.
Sebelumnya, Direktur CIA John Ratcliffe melakukan kunjungan ke Venezuela pada awal bulan ini, menjadikannya pejabat senior AS pertama yang datang ke negara tersebut setelah penangkapan Maduro.
Dalam kunjungan itu, Ratcliffe bertemu dengan penjabat presiden Venezuela Delcy Rodriguez serta sejumlah pemimpin militer.
Dalam pertemuan tersebut, Ratcliffe dilaporkan menyampaikan peringatan bahwa Venezuela tidak lagi dapat menjadi “tempat perlindungan yang aman” bagi pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Amerika Serikat.
Secara terpisah, laporan tersebut juga menyebut bahwa agen-agen CIA terlibat erat dalam operasi penangkapan Nicolas Maduro.
Personel badan intelijen itu disebut telah ditempatkan di Venezuela beberapa bulan sebelum penangkapan untuk memantau pergerakan Maduro.
Penilaian intelijen CIA juga dikabarkan berperan dalam pembentukan kebijakan AS terkait kepemimpinan Venezuela pasca-Maduro.
Meski demikian, sejumlah sumber menuturkan bahwa para pejabat AS masih menunggu arahan lebih lanjut dari Gedung Putih terkait langkah konkret dalam mengelola Venezuela setelah penangkapan mantan presiden tersebut. []






