DISTORI.ID – Gifest 2026 yang digelar di ICE BSD pada 16–18 Januari 2026 bukan hanya sekadar festival musik gospel, melainkan sebuah perayaan iman, kreativitas, dan kolaborasi lintas komunitas. Lebih dari 70 musisi tampil, termasuk 20 artis internasional dan 50 artis lokal Indonesia.
Nama-nama besar seperti Franky Sihombing, Andy Ambarita, Taya, New Breed, Ron Kenoly, dan Hillsong Australia turut meramaikan panggung. Namun, salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian justru datang dari Tanah Air Project, band rock sinematik asal Jakarta.
Tanah Air Project tampil sebagai performer terakhir dengan gaya yang berbeda dari musisi lainnya. Mereka bukan band rohani, tetapi menghadirkan energi dan pesan kebangsaan yang kuat. Penampilan ini menjadi simbol toleransi dan kebhinekaan di tengah festival yang berfokus pada musik gospel.
Pertunjukan mereka dibuka dengan instrumental Satu Nusa Satu Bangsa dan dilanjutkan dengan Indonesia Pusaka. Lagu-lagu hits mereka seperti Negeri Pemenang, Kandang Kita, dan Anak Indonesia juga dibawakan dengan penuh semangat.
Momen paling berkesan adalah ketika mereka membawakan medley Pancasila Rumah Kita karya Franky Sahilatua yang dipadukan dengan sholawat, lalu ditutup dengan lagu nasional Bagimu Negeri. Perpaduan ini menjadi simbol nyata bahwa musik dapat menyatukan perbedaan.
Ezekiel Rangga, sang motor penggerak, menegaskan bahwa pesan persatuan adalah milik semua warga bangsa.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kebangsaan dan kebhinekaan adalah nilai bersama yang harus dijaga,” katanya.
Sayangnya, penampilan Tanah Air Project berlangsung terlalu larut malam sehingga tidak semua pengunjung dapat menikmati pesan yang mereka bawa. Namun, bagi yang hadir, pertunjukan tersebut menjadi penutup yang penuh makna.
Dengan keberagaman musisi yang tampil, Gifest 2026 membuktikan dirinya sebagai festival yang bukan hanya merayakan musik gospel, tetapi juga menjadi ruang bagi pesan universal tentang persatuan, toleransi, dan kebhinekaan. []






