DAERAHNEWS

30 Guru IPS dari 28 SMP di Aceh Barat Ikuti Pelatihan Pengembangan Profesi di Makam Teuku Umar

DISTORI.ID – Sebanyak 30 guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dari 28 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Aceh Barat mengikuti pelatihan bertajuk “Pengembangan Profesionalisme Guru IPS Melalui Pendekatan Kontekstual” yang berlangsung pada 21 hingga 24 Juli 2025.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber Muhjam Kamza dosen dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh dan menekankan pendekatan deep learning dengan integrasi pembelajaran kontekstual langsung di situs sejarah Makam Pahlawan Nasional Teuku Umar, yang terletak di Gampong Mugo Rayeuk, Kecamatan Panton Reu.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan di Aceh Barat, khususnya dalam penguatan pembelajaran IPS yang bermakna dan relevan dengan konteks lokal.

“Partisipasi dari 28 SMP menunjukkan antusiasme yang tinggi dari para pendidik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” ujar Muhjam Kamza.

“Ini adalah langkah strategis untuk memastikan seluruh siswa SMP di Aceh Barat mendapatkan pembelajaran IPS yang lebih berkualitas dan bermakna,” imbuhnya.

Dengan menjadikan Makam Teuku Umar sebagai lokasi praktik pembelajaran, para guru diberikan pengalaman langsung untuk mengaitkan materi sejarah dalam kurikulum dengan realitas lokal yang penuh nilai perjuangan. Teuku Umar dikenal sebagai sosok pejuang tangguh dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, dan kisah kepahlawanannya menjadi inspirasi dalam pembentukan karakter siswa.

Selama pelatihan, kata Muhjam Kamza, para guru dibekali strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir kritis tentang nilai-nilai kepemimpinan, perjuangan, dan nasionalisme. Selain itu, mereka dilatih menggunakan teknik storytelling interaktif, simulasi sejarah, hingga diskusi kelompok yang disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa usia 12–15 tahun.

“Siswa SMP membutuhkan pendekatan yang lebih visual, interaktif, dan relevan dengan kehidupan mereka. Dengan mengunjungi langsung situs bersejarah seperti ini, kami dapat mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif,” ungkap salah seorang peserta.

Pelatihan ini juga memperkenalkan guru pada konsep berpikir historis: menganalisis sumber sejarah, membandingkan perspektif, serta mengaitkan peristiwa masa lalu dengan isu-isu kontemporer. Hal ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pada pembelajaran berbasis proyek dan pengembangan karakter.

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS Aceh Barat, Astina Dewi, yang turut menjadi peserta, menyatakan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat untuk mendorong pembelajaran IPS yang lebih kontekstual dan inspiratif.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa. Kolaborasi antar sekolah juga memberi ruang bagi para guru untuk saling berbagi pengalaman dan solusi,” kata Astina Dewi.

Ia menegaskan, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas individu guru, tetapi juga memperkuat jaringan profesional antarpendidik di Aceh Barat. Diharapkan, hasil pelatihan ini akan tercermin dalam peningkatan pemahaman sejarah lokal siswa dan tumbuhnya karakter kebangsaan yang kuat. []

Editor: M Yusrizal

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button