DISTORI.ID – Perjuangan hidup dan ketekunan Nek Ti dalam menabung dari hasil berjualan kue tradisional Aceh akhirnya membuahkan hasil manis. Perempuan bernama lengkap Ny Katidjah Ismail Adam asal Meunasah Jurong, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh itu akan menunaikan ibadah haji tahun ini di usia 90 tahun.
Sejak muda, Nek Ti dikenal sebagai perempuan mandiri dan terampil membuat aneka kue khas Aceh, seperti keukarah, dodol, dan meuseukat. Kue-kue itu dijual dengan menitipkannya ke warung-warung dan toko sekitar rumahnya.
Dari keuntungan yang diperoleh, ia sisihkan sedikit demi sedikit dan dikumpulkan dalam bentuk emas. Itulah cara sederhana Nek Ti menabung untuk mewujudkan mimpinya ke Tanah Suci.
“Saya bukan orang berada tapi orang miskin yang bisa bikin dan jual kue sedikit demi sedikit. Keuntungannya saya simpan untuk beli emas. Emas itu yang saya jual untuk daftar haji,” tuturnya Nek Ti, Selasa (13/5/2025).
Nek Ti mendaftar haji sejak tahun 2018. Kabar baik datang beberapa waktu lalu saat petugas dari Kementerian Agama (Kemenag) bersama Keuchik (kepala desa) setempat datang ke rumahnya untuk menyampaikan bahwa ia mendapat panggilan berangkat haji tahun 2025 atau 1446 Hijriah.
“Saya sangat bahagia luar biasa. Tidak menyangka akan benar-benar berangkat,” ujar Nek Ti haru.
Meski bahagia, ia sempat diliputi kesedihan karena tidak dapat ditemani anak semata wayangnya. Anak yang dimaksud merupakan anak tiri yang telah diasuhnya sejak kecil. Ia akhirnya menerima dengan ikhlas setelah mendapat penjelasan dari pihak Kemenag Pidie Jaya bahwa ada regulasi yang mengatur ketentuan pendamping mahram.
Kakankemenag Pidie Jaya, Mulyadi, membenarkan bahwa Nek Ti akan tergabung dalam Kloter 5 Embarkasi Aceh bersama jemaah lainnya asal Pidie Jaya.
“Anak beliau tidak bisa berangkat bersama karena aturan penyelenggaraan haji mengatur tentang pendamping mahram. Sesuai regulasi, anaknya akan berangkat pada tahun berikutnya,” jelas Mulyadi.
Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Agama RI Nomor 13 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Haji Reguler.
Meski fisiknya sudah lemah dan sempat mengalami patah kaki beberapa tahun lalu, semangat Nek Ti tidak pernah padam. Ia tetap rutin berlatih jalan setiap hari untuk mempersiapkan diri agar kuat menunaikan seluruh rukun dan kewajiban haji.
Kepada tim Humas Kemenag Aceh yang menyambanginya, Nek Ti berpesan agar siapa pun yang punya niat untuk haji tidak perlu menunggu kaya.
“Daftar saja dulu, simpan sedikit-sedikit. Saya bisa karena simpan hasil jualan kue dan beli emas sedikit-sedikit. Waktu harga emas sudah cukup, saya jual dan daftar haji,” tuturnya sambil tersenyum.
Sebelum berangkat, Nek Ti bahkan masih menjual 8 mayam emas untuk pelunasan biaya haji dan keperluan pribadinya.
Kisah Nek Ti adalah potret ketekunan, kesabaran, dan keyakinan yang luar biasa. Di usianya yang tak muda lagi, ia tetap teguh mewujudkan impiannya ke Tanah Suci dengan cara yang sederhana namun penuh makna. []






